Bahaya Pandangan

Bahaya Pandangan

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya” yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Dan Janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung. (QS An-Nur: 30 – 31)

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah bersabda,

Telah ditetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti melakukan hal itu. Kedua mata, zinanya ialah memandang. Kedua telinga, zinanya adalah mendengar. Lidah, zinanya adalah berbicara, Tangan, zinanya adalah memukul (meraba). Kaki, zinanya adalah melangkah. Hati, berkeinginan dan berangan-angan. Dan yang membenarkan atau menggagalkan semua itu, adalah kemaluan. Dari Jarir berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja). Beliau menjawab, “Alihkan pandanganmu.”

Berlebihan memandang dengan mata, menimbulkan anggapan indah terhadap apa yang dipandang dan mempertautkan hati yang memandang kepadanya. Selanjutnya, terlahirlah berbagai kerusakan dan bencana dalam hatinya, diantaranya :

1. Pandangan adalah anak panah beracun di antara anak panah Iblis. Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan kepadanya kenikmatan dan kedamaian dalam hatinya, yang ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.

2. Pandangan merupakan pintu masuk syetan. Sesungguhnya masuknya syetan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Syetan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati. Kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu syetan menyalakan api syahwat, dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Seseorang tidak mungkin melakukannya tanpa ada gambaran wujud yang dipandangnya.

3. Pandangan menyibukkan hati, menjadikannya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya, dan menjadi penghalang antara keduanya. Akhirnya urusannya pun menjadi kacau. Dia menjadi selalu lalai dan mengakui hawa nafsunya. Allah berfirman, Dan janganlah kamu taat kepada orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta urusannya kacau-balau. QS. Al-Kahfi: 28

Demikianlah, melepaskan pandangan secara bebas mengakibatkan tiga bencana ini. Para dokter hati (ulama’) bertutur, Antara mata dan hati ada kaitan yang sangat erat. Bila mata telah rusak dan hancur, maka hatipun rusak dan hancur. Hati seperti ini, ibarat tempat sampah yang berisikan segala najis, kotoran dan sisa-sisa yang menjijikkan. Ia tidak layak dihuni cinta dan ma’rifatullah, tidak akan merasa tenang dan damai bersama Allah, dan tidak akan mau inabah (kembali) kepada Allah. Yang bersemayam di dalamnya adalah yang berlawanan dengan semua itu.

Membiarkan pandangan lepas adalah maksiat kepada Allah dan dosa, sebagaimana firmanNya pada Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30 dan 31 yang telah disebutkan. Allah berfirman, Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat, dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS Al-Mukmin: 19) Membiarkan pandangan lepas menyebabkan hati menjadi gelap, sebagaimana menahan pandangan menyebabkan hati bercahaya.

Bila hati telah bersinar, maka seluruh kebaikan dari segala penjuru akan masuk ke dalamnya. Sebaliknya apabila hati telah gelap, maka berbagai keburukan dan bencana akan masuk ke dalamnya, dari segala penjuru.

Seorang yang shalih berkata, Barangsiapa mengisi lahirnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi Allah), menjaga pandangannya dari yang diharamkan, menjaga dirinya dari yang syubhat (belum jelas halal haramnya), dan hanya memakan yang halal, firasatnya tidak akan meleset.

Januari 12, 2009 at 3:32 am Tinggalkan komentar

Kedahsyatan Dzikrullah

Kedahsyatan Dzikrullah

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS. Al-Anfal: 45)

Konsep kesuksesan orang kafir sangat mirip dengan konsep kesuksesan Qarun yang berkata, sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku. Qarun beranggapan bahwa harta dan kesuksesan itu datang dengan kehebatan dirinya sendiri. Dia hanya melihat apa yang ada pada dirinya dan tidak melihat apa yang ada pada Allah. Dia berfikir bahwa dengan rasa percaya diri, dia dapat melanggengkan hartanya. Dia lupa bahwa ada Allah Yang Maha sanggup membuatnya binasa sebagaimana dia telah membinasakan ummat sebelumnya yang lebih kuat darinya dan lebih banyak hartanya.

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 96)

Al-Qur`an mengajarkan kepada kita, bahwa ketika kita merasa gentar dalam menghadapi tantangan hidup, pada saat itulah kita harus meneguhkan keyakinan kita kepada Allah dan berdzikir kepada Allah Yang Mahabesar, Allahu Akbar. Uang 1 milyar, kesembuhan dari penyakit, dan segala hal itu adalah kecil di hadapan Allah Yang Mahabesar. Allah Maha sanggup untuk menyembuhkan kita dan menjadikan kita kaya.

Intinya adalah bahwa kesuksesan itu diawali dengan hati yang yakin kepada Allah, kemudian menseting otak kita dengan berdzikir mengucapkan Allahu Akbar 33 kali setiap selesai shalat agar otak kita menjadi otak yang percaya kepada Kemahakuasaan Allah, kemudian kita menjadikan ikhtiar kita sebagai bukti kefakiran kita di hadapan Allah, bukan sebagai penyebab datangnya kesuksesan seperti yang dianut orang kafir dan Qarun.

Kepasrahan total baru kita dapat ketika kita mengakui kelemahan kita di hadapan Allah dan mengakui kekuasaan-Nya. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah. Sungguh, kita tidak dapat meraih sukses dan surga-Nya tanpa Kasih-Sayang dari Dia Yang membimbing kita di jalan-Nya yang lurus. Jalan Lurus akan dapat ditempuh oleh orang yang berhati lurus, berakal lurus, berlisan lurus, beramal lurus, dan berketeguhan yang lurus. Teguh dan pantang menyerah, shabar dan istiqomah, jiwa yang tegak lurus dalam menanti janji Allah dalam setiap langkahnya akan menemukan kesuksesan demi kesuksesan. Dan di ujung jalan itu akan dia temui kesuksesan besar, surga dan Wajah Tuhan-Nya.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa: 69)

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)

Januari 6, 2009 at 2:14 am Tinggalkan komentar

Golongan Orang-orang Bertakwa

Golongan Orang-orang Bertakwa

Rasulullah SAW pernah memprediksikan bahwa kelak akan datang suatu masa di mana orang yang sabar memegang agama laksana orang yang menggenggam bara. Beliau juga pernah menyatakan bahwa agama Islam ini datang sebagai sesuatu yang asing dan kelak pun akan kembali dianggap asing. Sebagai orang yang selalu menekankan idealisme, kita tentu tidak ingin seperti orang yang menggenggam bara dan asing ini. Sebab kalau dipertahankan ia dapat membakar, tapi kalau dilepas – dan ini alternatif yang paling mudah – maka kita akan hidup tanpa panduan agama.

Banyak orang yang mengatakan bahwa masa yang dimaksud dalam prediksi Rasulullah SAW tersebut adalah masa sekarang. Seseorang mudah sekali melepaskan atribut, identitas keislamannya ketika aturan-aturan yang diajarkan oleh Islam tersebut memberatkan. Banyak yang mengatakan bahwa sholat itu kan intinya ingat, eling, inna sholata lidzikri, sesungguhnya sholat itu untuk mengingat Allah, maka yang penting kan substansi dari sholat itu sendiri, elingnya itu. Jadi tidak perlu rukuk sujud. Ada juga orang yang mengatakan Islam itu kan menyerahkan diri, berserah diri pada ketentuan Ilahi. Maka cukuplah kita rela atas ketentuan-Nya dan karena itu kita akan selamat. Ada lagi contoh orang yang mengatakan yang perlu dijilbabkan justru adalah hati, perilaku hidup. Yang perlu dihijab adalah aurat maksiat. Maka apalah artinya berjilbab kalau perbuatan masih tidak mencerminkan perilaku Islami. Dan masih banyak lagi contoh yang semakna dengan pendapat ini, pendapat yang semakin memperkokoh prediksi Rasulullah SAW bahwa orang yang sabar dalam menjalankan perintah agama, seperti sholat, berislam dengan kaffah, menutup aurat dan lain-lain seperti orang yang menggenggam bara. Asing dan terasing.

Tapi benarkah masa seperti diprediksikan oleh Rasulullah tersebut adalah masa sekarang? Memang sekarang kita jumpai banyak orang yang berpendapat, berperilaku seperti beberapa contoh di atas. Banyak orang yang begitu mudah bangun malam, misalnya untuk bola, tapi begitu kesulitan untuk bangun malam untuk sholat tahajjud. Tapi ini kan kasustis. Tidak sedikit orang yang juga bangun malam untuk sholat tahajjud dan menonton piala dunia. Kita masih bisa berharap kepada pemuda-pemuda yang gandrung bola, tetapi juga adalah anggota aktif sholat berjamaah bahkan pemegang lisensi shaf terdepan. Kita masih berharap dengan orang-orang tua yang masih memberikan nasihat kebaikan kepada generasi yang lebih muda. Kita masih berharap kepada petinggi-petinggi yang kaya-raya tetapi juga adalah motor penggerak dakwah di lingkungannya. Kita masih bisa banyak berharap. Artinya prediksi Rasulullah SAW tersebut benar. Tetapi kita kan tidak perlu ikut arus kalau kemudian arus tersebut menyeret kepada keingkaran terhadap perintah-perintah Allah. Justru dengan kondisi seperti inilah, nilai kesabaran dalam menjalankan, dalam memegang ajaran Allah ini akan bernilai lebih.

Pertanyaannya sekarang, ikut yang manakah kita? Termasuk dalam golongan manakah kita? Apakah kita termasuk golongan orang yang erat mempertahankan agama, atau sebaliknya? Ini yang perlu, pernyataan sikap. Ikut Allah, maka kita akan selamat atau ikut syetan, mengkavling tempat di neraka? Tentu kita ingin termasuk dalam golongan orang-orang bertakwa yang teguh berpegang pada agama Allah.

Ya Allah jadikan kami termasuk golongan orang-orang yang kokoh dalam menjalankan perintah-Mu. Amien.

November 11, 2008 at 3:00 am Tinggalkan komentar

Mazhab Iblis

Mazhab Iblis

Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu”. Iblis menjawab, “Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al A’raf:12)

Ikhwani fillah, dialog tersebut terjadi antara Allah Al Khaliq dengan Iblis laknatullah sewaktu penciptaan Adam. Dengan kesombongan yang demikian besar Iblis berani ingkar kepada perintah Allah untuk bersujud kepada Adam hanya karena ‘merasa’ lebih baik dari Adam. Dia yang diciptakan dari api mengaku lebih baik dari Adam yang Allah ciptakan dari tanah. Dan di akhir episode, rasa besar diri Iblis inilah yang kemudian mengantarkannya mendapat julukan laknatullah.

Mari kita renungi apa yang diakui oleh Iblis laknatullah ini. Iblis mengaku berkualitas lebih baik dari pada Adam hanya gara-gara bahan penciptaannya dari api sedang Adam Allah ciptakan dari tanah. Inilah mazhab, jalan pola pikir Iblis. Iblis mendasari penilaian baik dan buruk hanya atas dasar bahan penciptaan, atas dasar materi, sesuatu yang kasat mata. Bukankah baik dan buruk itu adalah nilai? Jadi tentu saja tidak pantas kita menilai berdasarkan materinya. Dan kita, ternyata kita pun seringkali mengikuti pola pikir dan perilaku Iblis ini. Penilaian baik dan buruk terhadap seseorang sering kita dasarkan pada jabatan, kekuasaan, harta kepunyaan orang tersebut. Terhadap orang yang golongan menengah ke atas kita sering nunduk-nunduk, manggut-manggut, inggih-inggih dengan tangan menekuk di bawah pusar. Sedangkan terhadap orang yang berada di bawah kita, orang miskin di sekeliling kita, seringkali kita berkacak pinggang setinggi dada hanya gara-gara kita merasa penciptaan kita, nasib dan nasab kita, lebih baik dari dia. Naudzubillah.

Jelas pengakuan seperti ini bertentangan dengan garis yang telah ditetapkan oleh Allah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa. Inilah konsep baik dan buruk dalam pandangan Allah yang tercantum di dalam Al Qur’an. Yang paling baik ialah dia yang paling ikhlas menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Yang paling buruk adalah dia yang paling sombong bermaksiat kepada Allah.

Ikhwan fillah, saudaraku, sudah saatnya kita mengoreksi diri sambil memohon kepada Allah agar dijauhkan dari mazhab, pola pikir dan perilaku Iblis ini. Terakhir, satu-satunya cara untuk mendapatkan gelar terbaik adalah dengan bertaqwa, dan tidak ingkar kepada perintah-perintah Allah. Hanya sekali Iblis ingkar, bermaksiat terhadap perintah Allah dia sudah digelari laknatullah. Dan setelah dilaknat oleh Allah, Iblis berjanji untuk menyesatkan umat manusia semuanya. Jadi mari kita memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari perilaku Iblis dan godaannya.

Wallahua’lam bishshowab.

November 11, 2008 at 2:58 am Tinggalkan komentar

Ikhtiar dan Tawakkal

Ikhtiar dan Tawakkal

Di dalam kehidupan ini, ada empat kemungkinan yang dapat kita jumpai di dalam urusan berikhtiar, apapun bentuk ikhtiar yang kita lakukan. Kemungkinan pertama, sering kali kita temui orang yang berusaha dan berhasil. Kemungkinan kedua, ada juga orang yang walaupun telah berusaha dengan sekuat tenaga, tetapi kemudian tujuannya tidak tercapai. Yang ketiga, walau pun agak jarang tetapi ada juga orang yang sebenarnya tidak berusaha, atau usaha yang dilakukannya itu minimal, tetapi juga berhasil. Yang terakhir, lebih sering kita jumpai orang yang tidak berusaha, dan tidak berhasil. Jadi, ada orang yang berusaha, berhasil; ada yang berusaha tetapi tidak berhasil; tidak berusaha, berhasil dan terakhir, tidak berusaha, tidak berhasil.

Keempat fakta ini menunjukkan kepada kita, bahwa kita tidak bisa dengan pasti mengetok palu, memastikan bahwa keberhasilan yang kita akan peroleh berbanding sejajar dengan usaha yang kita lakukan. Kalau hal ini kita yakini, maka kita cenderung tidak akan mau menerima kegagalan yang kita terima. Yang harus kita yakini adalah kita hanya berkewajiban berusaha, berusaha dengan segenap kemampuan kita untuk mencapai suatu tujuan. Kemudian setelah kita berusaha dengan maksimal, hasilnya kita serahkan kepada kehendak Ilahi.

Konsep yang harus kita tanamkan di dalam berusaha adalah la haula wa la quwwata illa billah, tiada daya dan kekuatan selain daya dan kekuatan milik Allah. Setelah berikhtiar, kita serahkan kepada Allah, bukan menyombongkan jerih-payah, upaya yang telah kita lakukan. Maka kalau konsep ini sudah tertanam di dalam jiwa kita, ketika berhasil kita tidak lantas bersorak, mengepalkan tinju tinggi-tinggi sambil berteriak, yes! Tidak lupa diri, tetapi justru segera mengingat Allah mengucap syukur memuji karunia-Nya. Sebaliknya, ketika gagal kita tidak lantas menekuk muka, putus asa menganggap kegagalan sebagai akhir segalanya. Tetapi kita lantas segera muhasabah, introspeksi diri mencari penyebab kegagalan untuk perbaikan di masa datang, sambil mengingat bahwa semua cobaan datang dari Allah, dan di balik kesulitan terdapat hikmah, kebaikan.

Yakinlah, bahwa walau pun gagal, usaha yang telah kita lakukan akan dinilai sebagai suatu kebaikan di sisi Allah. Sebuah hadits menjelaskan kepada kita, dengan makna bahwa seandainya kita mempunyai pengetahuan yang sangat jelas bahwa esok akan datang hari kiamat, sedangkan di tangan kita terdapat sebutir biji kacang, kita dilarang untuk membuangnya. Tetapi kita disuruh untuk menanamnya walau pun kita tahu betul bahwa esok akan kiamat. Bukan hasil yang dilihat oleh Allah SWT, akan tetapi jerih payah kita menanam biji kacang itulah yang akan dicatat sebagai suatu kebaikan.

Sekali lagi, mari kita tanamkan konsep la haula wa la quwwata illa billah di dalam setiap bentuk usaha kita agar ketika berhasil kita tidak lantas sombong, lupa daratan, dan tidak terpuruk ketika gagal.

Wallahu a’lam bishowab.

November 11, 2008 at 2:47 am Tinggalkan komentar

Ikhlas

Ikhlas

Ikhlas merupakan salah satu dari berbagai amal hati. Amal akan menjadi sempurna, hanya dengan ikhlas. Amal yang tidak disertai dengan ikhlas, ibarat gambar mati atau raga tanpa jiwa. Allah SWT hanya menginginkan hakikat amal, bukan rupa dan bentuknya. Dia menolak setiap amal yang pelakunya tertipu dengannya.

Maksud ikhlas di sini adalah menghendaki keridhaan Allah SWT dengan suatu amal, membersihkannya dari segala noda individual maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah SWT. Praktis dalam ikhlas, tidak ada noda yang mencampuri suatu amal. Imam Al Ghazali pernah mengatakan bahwa segala sesuatu digambarkan mudah bercampur dengan sesuatu lainnya. Jika bersih dari pencampurannya dan bersih darinya, maka itulah yang disebut murni. Perbuatan yang besih dan murni disebut ikhlas.

Allah SWT berfirman, ”… (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS An Nahl: 66). Kemurnian susu itu diukur tanpa adanya campuran kotoran dan darah atau segala sesuatu yang memungkinkan bercampur dengannya. Ikhlas kebalikan syirik. Siapa yang tidak ikhlas, berarti dia musyrik. Hanya saja syirik itu mempunyai beberapa derajat.

Ikhlas dalam tauhid kebalikan dari syirik dalam uluhiyah. Syirik ada yang tersembunyi, ada pula yang terang-terangan. Begitu pula ikhlas. Ikhlas dan kebalikannya sama-sama menyusup ke dalam hati karena memang hatilah tujuannya. Ikhlas akan memberikan kekuatan untuk beramal secara berkesinambungan. Seseorang yang beramal karena nafsu perut akan menghentikan amalnya bila tidak mendapatkan sesuatu yang mengenyangkan nafsunya.

Orang yang beramal karena mengharap ketenaran dan kedudukan, tentu akan bermalas-malasan atau merasa berat, jika ada pertanda harapannya akan kandas. Orang yang beramal karena mencari muka di hadapan pemimpin atau penguasa, tentu akan menghentikan amalnya, jika pemimpin tersebut turun dari jabatannya. Sedangkan orang yang beramal karena Allah SWT, tidak akan memutuskan amalnya, tidak mundur, dan tidak malas-malasan sama sekali. Sebab, alasan yang melatarbelakangi amalnya tidak pernah sirna.

Allah SWT berfirman, ”Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS Al Qashash: 88). Upaya mengetahui hakikat ikhlas dan pengamalannya laksana lautan yang dalam. Semua orang bisa tenggelam di dalamnya, kecuali hanya sedikit. Inilah yang dikecualikan dalam firman Allah SWT, ”Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS Shad: 83). Wallahu a’lam bi ash-shawab.

November 11, 2008 at 2:44 am 1 komentar

Gugurkan Segala Kesombongan dengan Sholat Berjamaah

Gugurkan Segala Kesombongan dengan Sholat Berjamaah

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. (QS. Al Baqarah:43)

Salah satu hikmah sholat berjamaah adalah menggugurkan kesombongan rasa besar diri yang membesarkan semua predikat keduniaan, pangkat, jabatan, harta dan nama yang disandang dan menggantinya dengan penyerahan total terhadap kebesaran Ilahi. Ini dibuktikan dengan fakta bahwa barisan sholat berjamaah, shaf-shaf sholat tersebut tidak pernah terbentuk berdasarkan golongan, jabatan, staf-non staf, dan lain-lain predikat keduniaan. Di mana pun sholat berjamaah didirikan, ia tidak didasari oleh semua predikat ini. Yang pegawai rendahan apabila kebetulan berdiri di sebelah seorang senior manajer, misalnya, dia harus tanpa sungkan-sungkan merapatkan barisan dengan bapak manajer tersebut. Demikian juga pejabat tinggi tidak boleh, misalnya karena alasan derajat menjadi turun gara-gara bersebelahan dengan bawahan, tidak boleh meminta perlakuan istimewa dengan mengkavling ruang sholat sekehendak hatinya dan tidak memperbolehkan orang lain merapatkan barisan dengannya. Kesombongan-kesombongan seperti inilah yang digugurkan oleh persatuan shaf sholat berjamaah. Ini yang pertama.

Alasan lain sehingga dikatakan sholat berjamaah tersebut dapat menggugurkan kesombongan adalah sifat gerakan sholat itu sendiri. Pada saat sujud, kepala tempat berdiamnya intelegensi yang sering dipertuhankan dan raut wajah elok yang sering dibanggakan karena kegagahan dan kecantikannya, saat sujud kepala dan wajah sumber kesombongan ini tersungkur lebih rendah dari jalan keluar kotoran yang menjijikkan. Inilah dua hal yang dapat memberikan pelajaran kepada kita, menyadarkan kita bahwa dengan sholat berjamaah kesombongan adalah sesuatu yang menggelikan. Semua predikat keduniaan, pangkat jabatan dan nama besar yang disandang tidaklah ada artinya di depan Allah.

Bagi orang yang ingin menghilangkan kesombongan diri, seharusnya banyak-banyak mendatangi shaf-shaf sholat berjamaah yang didirikan. Cuma sayangnya, sampai saat ini sering kali kita temukan tiang masjid berjumlah jauh lebih banyak dari jumlah orang yang menghadiri sholat berjamaah tersebut. Sepinya orang yang menghadiri sholat berjamaah ini bukan disebabkan ketidaktahuan akan hikmah-hikmah sholat berjamaah. Justru yang terjadi adalah biasanya kita berapologi, mencari pembenaran diri, mencari alasan-alasan yang kira-kira dapat kita jadikan hujah atas ketidakhadiran kita dalam jamaah sholat ini. Di samping itu, ada kenyataan bahwa kita lebih bisa profesional dalam urusan dunia tetapi untuk urusan ibadah seringkali kita tidak bisa profesional. Kita merasa cukup dengan mengandalkan orang lain. Kalau orang lain sudah mendirikan sholat berjamaah, maka cukuplah. Kira-kira demikian alasan sebagian di antara kita.

Atau jangan-jangan sepinya barisan sholat berjamaah di masjid-masjid gara-gara kita masih merasa bahwa status keduniaan kita menghalangi kita membangun jamaah dengan jamaah lain yang cuma pegawai rendahan. Atau justru kita merasa bahwa bokong kita masih kurang cantik untuk mengatasi wajah kita yang elok. Kalau ini yang menghalangi kita mendatangi jamaah sholat yang didirikan, marilah kita tertawakan diri atas kebodohan kita ini.

Terakhir, marilah kita biasakan ruku’ bersama orang-orang yang ruku’ agar terbiasa hati kita menghapus semua kebesaran diri dan mengikrarkan bahwa yang besar hanyalah Allah. Allahu Akbar.

November 11, 2008 at 2:37 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Desember 2016
S S R K J S M
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 475 hits